Sama seperti ayam dan telor, mana yang duluan?

pembahasan ini tidak pernah habis karena akan selalu ada saja pro-kontra, cuman sebagai praktisi musik dan pengajar. saya mau bagikan sedikit insight buat sobat pembaca.

Otodidak

Awalnya saya adalah musisi otodidak, yang belajar musiknya secara mandiri dengan mengumpulkan informasi dari sana sini (ngulik kaset,koleksi majalah dan buku musik, bertanya ke temen dll. cara ini sebetulnya bagus, karena meskipun tidak pakai metode baku dan juga kurikulum, cara belajar ini mengolah rasa penasaran menjadi pengetahuan dan pengalaman.

kelemahannya? ada, kebanyakan trial and error yang mana konsekuensinya ngabisin duit, ngabisin waktu udah ga usah debat! gak semua orang punya privillege yang sama bisa langsung shortcut nemuin orang yang baik dan benar ngajarinnya. ga semua orang punya budget unlimited kayak sultan.

Les Musik

Kursus jadi opsi 50:50, dengan guru yang ngajarin dalam waktu terbatas biasanya 30 menit sampai 1 jam per sesi, setelah itu harus nunggu seminggu lagi untuk ketemu guru dan konsultasi musik. buat guru, kadang jadi terpaksa buru-buru ngajarin materi dalam waktu sempit.

Sekolah musik

Mungkin sebagian orang berpikir ini cara yang paling lengkap dan paling benar, padahal belum tentu. kalau ada sekolah lengkap dengan fasilitas gedung bagus, guru berpengalaman dan sertifikasi, lokasi strategis, ya wajar! anda kan bayar 🙂 beruntunglah kalau ada program beasiswa, kalau gak ada ya mesti kayak saya, bayar biaya sekolah musik dari hasil ngejob banting tulang hingga tifus 2x. mahal kakak!!!

Kelemahannya? ada, karena semua materi disajikan dalam satu paket komplit, biasanya murid jadi kesulitan menentukan prioritas dan menganalisa kemampuan diri yang paling dominan.

Trus yang paling baik yang mana?

Coba ya saya tanya balik:

  • waktu, seberapa banyak kamu bisa menyisihkan untuk terima materi ajaran, berlatih?
  • biaya? punya cadangan dana? atau mesti ekstra kerja? atau sudah tersedia dari orang tua? gapapa semuanya benar, manfaatkan selagi bisa dan ada.
  • komitmen, seberapa kuat kamu mau komitmen dengan program investasi skill buat masa depan?

Kalau kamu punya jawabannya, intinya mau pilih otodidak, les atau sekolah, kamu sudah niat mengasah kemampuan. sudah ada niat untuk berkembang, itu sudah baik, hanya tinggal masalah upaya konsisten untuk latihan dan evaluasi.

Selamat 5 menit waktumu gak sia-sia baca ini!

share ya 👌 kalau kamu belajar sesuatu dari tulisan ini