Senin malam, 2 November 2026, TsNada Jakarta di kawasan Cikini menjadi tempat berkumpulnya para pecinta jazz dalam perayaan satu tahun perjalanan Jazzy Mondays. Mengusung tema “One Year, One Legacy”, acara Indonesian Jazz Legends Vol. 12 ini menghadirkan sebuah malam penuh musik, kolaborasi, dan penghormatan terhadap perjalanan jazz Indonesia.

Pada kesempatan ini, Chaka Priambudi tampil sebagai pemain bass bersama formasi Indonesian Jazz Legends, mendampingi sejumlah musisi senior dan menghadirkan repertoar jazz yang beragam.

Indonesian Jazz Legends dan The Nyonya

Salah satu daya tarik utama malam itu adalah penampilan spesial The Nyonya, kelompok vokal yang terdiri dari tiga penyanyi, yaitu Lita Zen, Uci Nurul, dan Pita Loppies.

Ketiganya menghadirkan karakter vokal dan interpretasi musik yang menjadi bagian penting dari pertunjukan malam itu. Kehadiran The Nyonya memberikan warna tersendiri dalam perayaan satu tahun Jazzy Mondays.

Pertunjukan ini juga didukung oleh formasi musisi:

  • Oele Pattiselanno – Guitar
  • Cendi Luntungan – Drums
  • Fanny Kuncoro – Keyboard
  • Chaka Priambudi – Bass

Instrumental playlist:

  • Samba for Carmen – Paquito D’Rivera
  • Memories Of Tomorrow – Keith Jarret

Perpaduan instrumen gitar, keyboard, bass, dan drum menjadi fondasi musikal untuk mengiringi berbagai repertoar yang dibawakan sepanjang acara.

Membuka Malam dengan Jazz Standards

Penampilan dibuka dengan lagu klasik jazz “Day by Day”, sebuah pilihan repertoar yang membawa suasana malam ke dalam tradisi jazz standards.

Selanjutnya, penonton diajak menikmati lagu “Good to Be Back” yang dipopulerkan oleh Natalie Cole. Lagu ini menjadi salah satu repertoar menarik dalam rangkaian penampilan, sekaligus memiliki kedekatan tersendiri dengan dokumentasi musik Chaka Priambudi yang sebelumnya juga membahas lagu tersebut.

Suasana kemudian berlanjut melalui lagu “Woman in Love” dari The Three Degrees, menghadirkan warna vokal dan nuansa soul yang berbeda dari repertoar sebelumnya.

Variasi repertoar ini memperlihatkan bagaimana musik jazz dapat menjadi ruang interpretasi bagi berbagai genre, mulai dari jazz standards hingga pop, soul, dan R&B.

Ade Irawan dan “Groovin’ High” Karya Dizzy Gillespie

Salah satu momen menarik malam itu adalah kehadiran pianis Ade Irawan.

Dalam kesempatan tersebut, Ade Irawan tampil membawakan interpretasi “Groovin’ High”, komposisi legendaris karya Dizzy Gillespie yang dikenal sebagai salah satu repertoar penting dalam perkembangan bebop.

Groovin’ High memiliki karakter musikal yang khas, dengan progresi harmoni dan melodi yang menantang untuk dieksplorasi melalui improvisasi. Kehadiran Ade Irawan di piano memberikan kesempatan untuk menikmati salah satu sisi penting dari tradisi jazz, yaitu interaksi musikal dan kebebasan improvisasi.

Jam Session: Dari Etta James hingga Erroll Garner

Setelah rangkaian penampilan utama, suasana semakin cair melalui sesi jam session yang mempertemukan sejumlah musisi dan penyanyi.

Seorang penyanyi muda bernama Sheris turut bergabung dan membawakan “At Last”, lagu yang sangat dikenal melalui interpretasi Etta James.

Sesi berikutnya menghadirkan Ferina Widodo, yang dikenal oleh publik melalui program televisi Lenong Rumpi pada era 1990-an. Dalam kesempatan ini, Farina membawakan “Misty”, komposisi jazz karya Erroll Garner yang telah menjadi salah satu standar jazz paling dikenal di dunia.

Kehadiran para penyanyi dengan latar belakang dan generasi yang berbeda memberikan dinamika tersendiri dalam sesi jam session. Inilah salah satu hal menarik dari pertunjukan jazz: panggung dapat menjadi ruang pertemuan, tempat para musisi saling merespons dan berbagi interpretasi melalui musik.

Jazz, Kolaborasi, dan Perjalanan Satu Tahun

Perayaan Indonesian Jazz Legends Vol. 12 bukan sekadar pertunjukan musik reguler. Acara ini sekaligus menjadi penanda satu tahun perjalanan Jazzy Mondays di TsNada Jakarta.

Dengan mempertemukan musisi senior, penyanyi berpengalaman, dan generasi musisi yang lebih muda, acara ini memperlihatkan bahwa tradisi jazz tetap hidup melalui kolaborasi dan regenerasi.

Bagi Chaka Priambudi, kesempatan tampil sebagai bassist bersama Oele Pattiselanno, Cendi Luntungan, dan Fanny Kuncoro menjadi bagian dari perjalanan bermusik yang berharga. Berada dalam satu panggung dengan para musisi yang memiliki pengalaman panjang di dunia jazz merupakan kesempatan untuk terus belajar, berinteraksi, dan mengembangkan musikalitas.

Malam itu menjadi pengingat bahwa jazz bukan hanya tentang memainkan lagu, tetapi juga tentang mendengarkan, merespons, berimprovisasi, dan membangun komunikasi musikal.

One Year, One Legacy. A Year of Legends, A Lifetime of Music.

Sampai bertemu di panggung jazz berikutnya.

Discover more from Chaka Music Production

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading