Oleh: Redaksi
Kategori: Musik & Budaya
Dalam perbendaharaan musik tradisional Nusantara, khususnya masyarakat Batak Toba, lagu “Indada Siririton” memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Lagu ini tidak hanya sekadar hiburan, melainkan sebuah warisan tutur (ende) yang menggambarkan realitas sosial, ketegaran hati, serta kearifan lokal dalam memandang roda kehidupan.
1. Asal-Usul dan Pencipta Lagu
Lagu “Indada Siririton” diciptakan oleh Nahum Situmorang (1908–1969), seorang maestro komponis legendaris tanah Batak yang telah melahirkan puluhan lagu Batak populer (seperti Anju Ahu, Marragam-Ragam, dan Lissoi).
Nahum Situmorang dikenal sebagai komposer yang sangat jeli dalam merekam dinamika sosial, perasaan, dan realitas kehidupan masyarakat Batak pada masanya. Lewat “Indada Siririton”, ia menuangkan narasi tentang kerendahan hati, kepasrahan, sekaligus ketegaran seseorang yang kerap dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitarnya.
2. Arti Nama dan Filosofi Judul
Secara etimologi dalam bahasa Batak Toba:
- Indada: Berarti “bukan” atau “tidak ada”.
- Siririton / Ririt: Berasal dari kata ririt yang berarti “dipilih”, “dilirik”, atau “diperhitungkan” (sering kali dikaitkan dengan kriteria memilih pasangan atau menilai seseorang).
Secara harfiah, “Indada Siririton” dapat diartikan sebagai “Bukan Orang yang Dipilih / Diperhitungkan”.
Judul ini merupakan ungkapan kerendahan hati (unduk ni roha) dari seseorang yang menyadari kekurangannya—baik dari segi status sosial, harta, maupun rupa—sehingga merasa dirinya bukanlah sosok yang dilirik atau diunggulkan orang lain.
3. Makna Lirik dan Ungkapan Umpasa
Lirik lagu “Indada Siririton” disusun dengan gaya bahasa yang puitis dan sering kali menggunakan perumpamaan khas Batak (umpasa/umpama).
Lagu ini menceritakan tentang perasaan seseorang yang menerima kenyataan hidup dengan lapang dada. Meskipun ia menyadari statusnya yang bersahaja dan bukan pilihan utama, ia tidak menyimpan dendam atau rasa benci. Sebaliknya, lagu ini mengajarkan pentingnya kesabaran, keikhlasan, dan kepasrahan kepada Tuhan (Debata).
Pesan Moral:
Lagu ini menjadi cermin filosofi Batak bahwa harga diri seseorang tidak hanya diukur dari harta atau kedudukan lahiriah, melainkan dari kebaikan hati, kejujuran, dan keteguhan iman dalam menjalani ujian hidup.
4. Perkembangan Popularitas dan Penyebaran
Sejak diciptakan di pertengahan abad ke-20, “Indada Siririton” telah direkam dan dibawakan ulang oleh berbagai penyanyi serta grup musik legendaris Batak dari era ke era, seperti:
- Vocal Group & Trio Batak (Era 70-80an): Dipopulerkan oleh grup-grup trio legendaris seperti Trio Golden, Trio Ambisi, hingga Victor Hutabarat, yang membawakannya dengan harmoni vokal khas Batak yang bertenaga namun syahdu.
- Pentas Budaya & Pesta Adat: Lagu ini sering dilantunkan dalam berbagai acara reuni keluarga (uropan), pertunjukan budaya, hingga acara nostalgia masyarakat sipora (perantau) Batak di seluruh Indonesia maupun luar negeri.
- Era Modern: Hingga kini, “Indada Siririton” tetap menjadi bagian dari album kompilasi lagu-lagu terbaik karya Nahum Situmorang dan sering diaransemen ulang dalam berbagai gaya musik, mulai dari pop Batak, keroncong, hingga musik akustik modern.
Kesimpulan
Lagu “Indada Siririton” adalah bukti kejeniusan Nahum Situmorang dalam merangkai realitas hidup menjadi karya seni yang abadi. Lebih dari sekadar nada yang merdu, lagu ini menyimpan pesan mendalam tentang kerendahan hati dan ketegaran, menjadikannya salah satu warisan musik daerah paling berharga di Nusantara.





