Oleh: Redaksi
Kategori: Musik & Budaya
Lagu “Ayam Den Lapeh” tentu sudah tidak asing lagi di telinga para penikmat musik Indonesia. Musiknya yang enerjik dan berirama riang sering kali membuat siapa saja yang mendengarnya ingin ikut bergoyang. Namun, di balik alunan nadanya yang ceria, lagu legendaris asal Sumatra Barat ini menyimpan sejarah panjang, kisah emosional, serta kedalaman filosofi masyarakat Minangkabau.
Asal-Usul dan Sosok di Balik “Ayam Den Lapeh”
Karya ikonik ini lahir di era keemasan musik Minang modern pada pertengahan dekade 1950-an. Lagu ini tercipta atas kolaborasi dua sosok penting dalam sejarah musik Minangkabau:
- Abdul Hamid (A. Hamid): Sosok pencipta dan penyusun melodi dasar lagu.
- Nurseha: Penyanyi legendaris dari grup Orkes Gumarang (pimpinan Asbon Madjid) yang menuliskan liriknya.
Kisah di balik penulisan liriknya pun terbilang cukup personal. Lirik “Ayam Den Lapeh” terinspirasi dari pengalaman nyata Nurseha yang mengalami kegagalan rencana pernikahan dengan seorang pelaut. Rasa kecewa dan kehilangan tersebut kemudian ia tuangkan menjadi bait-bait lirik berstruktur pantun yang begitu indah.
Makna Metafora: Mengapa “Ayam”?
Secara harfiah, judul “Ayam Den Lapeh” berarti “Ayam Saya Lepas”.
Dalam budaya masyarakat Minangkabau, ayam ternak—terutama ayam jago—merupakan aset berharga yang dipelihara dengan penuh kasih sayang. Dalam lagu ini, “ayam” dihadirkan sebagai simbol atau kiasan (galas) untuk kekasih, impian, atau sesuatu yang sangat bernilai yang telah terlepas dari genggaman.
Bait populer seperti:
“Sikua capang sikua capeh, saikua tabang saikua lapeh…”
(Seekor cacad seekor timpang, seekor terbang seekor lepas…)
menggambarkan kepasrahan dan kepasrahan mendalam ketika apa yang dijaga dengan baik akhirnya sirnah atau berpindah ke tangan orang lain.
Keunikan Paradoks: Lirik Sedih dengan Musik yang Riang
Salah satu keistimewaan utama “Ayam Den Lapeh” terletak pada kontras antara isi lirik dan aransemen musiknya. Meski tema utamanya adalah ratapan atas kehilangan, Orkes Gumarang mengemasnya dengan irama latin bernuansa cha-cha-cha dan mambo yang sangat hidup.
Pengemasan ini bukan tanpa alasan. Paradoks ini mencerminkan prinsip hidup masyarakat Minangkabau, yaitu pantang baiba hati (pantang bersedih berlarut-larut). Ketika menghadapi musibah atau kehilangan, seseorang diajarkan untuk tidak tenggelam dalam duka. Kehilangan harus disikapi dengan ketegaran, keikhlasan, serta senyuman untuk terus melangkah ke depan.
Perjalanan Popularitas hingga Mancanegara
Popularitas lagu ini terus melintasi berbagai era dan generasi:
- Pionir Orkes Gumarang (1950-an): Rekaman awal oleh Nurseha dan Orkes Gumarang menjadi fondasi awal melesatnya lagu ini di kancah nasional.
- Era Elly Kasim (1969): Diva Pop Minang, Elly Kasim, merekam ulang lagu ini bersama grup The Steps dalam album Suara Minang. Versi ini meledak hebat hingga terdengar ke luar negeri, bahkan sempat diterjemahkan dan dinyanyikan di Vietnam.
- Era Modern: Hingga hari ini, “Ayam Den Lapeh” terus diaransemen ulang oleh musisi lintas generasi dan genre—mulai dari penyanyi Pop Minang Ria Amelia hingga grup musik pop Ten 2 Five lewat album I Love Indonesia (2010).
Lagu “Ayam Den Lapeh” menjadi bukti nyata bagaimana sebuah karya musik lokal yang berakar kuat dari budaya dan pengalaman personal mampu bertahan menembus ruang dan waktu.





