
Di sebuah kesempatan setelah kami tampil di GKI Kwitang, seorang pianis bertanya kepada saya,
“Mengapa sampai harus mendatangkan pemain kendang dari Bandung? Memangnya di Jakarta tidak ada?”
Pertanyaan tersebut sangat wajar. Indonesia memiliki banyak pemain kendang yang luar biasa, termasuk di Jakarta. Namun, jawaban saya bukan soal jumlah pemain, melainkan tentang karakter musikal yang kami butuhkan.
Yang Kami Cari Bukan Sekadar Pemain Kendang
Di Lantun Orchestra, kami tidak memainkan musik tradisional dalam bentuk aslinya. Kami membawakan lagu-lagu populer dengan sentuhan warna Nusantara.
Dalam satu pertunjukan, Anda bisa melihat piano, bass fretless, drum, vokal, kemudian dipadukan dengan kendang, bonang, saron, atau instrumen tradisional lainnya. Semua instrumen tersebut saling melengkapi untuk menciptakan warna musikal yang khas.
Karena itu, seorang pemain kendang di Lantun Orchestra memiliki peran yang berbeda dari pertunjukan tradisional pada umumnya.
Adaptasi Adalah Kunci
Tidak semua pemain tradisional terbiasa memainkan musik populer. Sebaliknya, tidak semua musisi modern memahami bagaimana menghadirkan nuansa tradisional secara alami.
Musisi yang kami cari harus mampu:
- Memahami teknik permainan kendang tradisional dengan baik.
- Beradaptasi dengan lagu pop, jazz, dan berbagai genre modern.
- Mendukung penyanyi, bukan mendominasi pertunjukan.
- Memahami dinamika aransemen, kapan harus menonjol dan kapan harus memberi ruang.
- Berkolaborasi dengan instrumen modern seperti piano, bass fretless, drum, gitar, serta alat musik tradisional lainnya.
- Cepat mempelajari repertoar yang sangat beragam.
Kemampuan seperti ini memang ada, tetapi jumlahnya tidak sebanyak pemain kendang pada umumnya.
Mengapa Bandung?
Pilihan kami menggunakan pemain dari Bandung bukan berarti Jakarta kekurangan musisi hebat.
Sebaliknya, Jakarta memiliki banyak pemain kendang yang luar biasa.
Namun, dalam sebuah pertunjukan profesional, yang paling penting bukan hanya kemampuan teknis, melainkan kecocokan artistik (artistic chemistry). Kami membutuhkan musisi yang memiliki visi musikal yang sama, mudah beradaptasi, terbuka terhadap eksplorasi, dan mampu bekerja sebagai satu kesatuan tim.
Kebetulan, chemistry tersebut kami temukan pada rekan kami dari Bandung.
Musik Tradisional Tidak Harus Selalu Tradisional
Bagi kami, melestarikan budaya bukan berarti membatasi budaya pada bentuk aslinya.
Budaya juga dapat hidup melalui inovasi.
Ketika kendang berpadu dengan bass fretless, piano, drum, bonang, saron, hingga aransemen lagu-lagu populer, yang lahir bukanlah sekadar pertunjukan musik. Yang tercipta adalah pengalaman musikal baru yang tetap berakar pada identitas Indonesia.
Inilah filosofi yang kami pegang di Lantun Orchestra.
Kami tidak berusaha mengubah tradisi. Kami berusaha mempertemukan tradisi dengan masa kini, sehingga musik Indonesia dapat terus berkembang dan dinikmati oleh berbagai generasi.
Pada akhirnya, kami tidak memilih musisi berdasarkan kota asalnya. Kami memilih mereka berdasarkan kualitas, kemampuan beradaptasi, semangat berkolaborasi, dan kesamaan visi dalam menghadirkan pengalaman musik yang otentik, elegan, dan penuh warna Nusantara.






