Sejarah not angka di Indonesia

Sejarah not angka di Indonesia

1. Asal-Usul dari Prancis (Sistem Galin-Paris-Chevé)

Meskipun kita mengenalnya sebagai sistem standar, not angka sebenarnya diciptakan di Prancis pada abad ke-19. Sistem ini dikembangkan oleh Pierre Galin, Aimé Paris, dan Émile Chevé.

Tujuannya sangat praktis: mempermudah masyarakat awam untuk belajar membaca musik tanpa harus menghafal garis-paranada yang rumit pada not balok. Sistem ini kemudian dikenal sebagai metode Galin-Paris-Chevé.

2. Masuknya ke Indonesia melalui Misionaris Belanda

Not angka masuk ke Nusantara pada masa kolonial Belanda, sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

• Peran Gereja: Para misionaris dan pengajar Belanda membawa sistem ini untuk mengajarkan lagu-lagu pujian (himne) di gereja-gereja dan sekolah-sekolah rakyat.

• Kepraktisan: Karena keterbatasan alat cetak musik saat itu, not angka jauh lebih mudah diketik dengan mesin ketik biasa atau ditulis tangan dibandingkan not balok.

3. Adaptasi dalam Musik Lokal

Salah satu alasan mengapa not angka begitu awet di Indonesia adalah kesesuaiannya dengan logika musik lokal:

• Musik Gamelan: Sistem kepatihan yang digunakan dalam musik Jawa menggunakan angka untuk mencatat nada. Hal ini membuat transisi atau adaptasi dari musik barat ke musik lokal (dan sebaliknya) menjadi lebih mudah dipahami oleh pemusik tradisional.

• Pendidikan Massal: Pasca kemerdekaan, pemerintah Indonesia menggunakan not angka sebagai standar pendidikan musik di sekolah-sekolah karena dianggap paling efektif untuk diajarkan secara massal kepada siswa.

4. Tokoh Penting: Paul Seelig dan Ki Hajar Dewantara

Beberapa tokoh memiliki andil dalam mempopulerkan atau mengadaptasi sistem ini:

• Paul Seelig: Seorang komposer Belanda di Indonesia yang banyak menyusun lagu dengan not angka.

• Ki Hajar Dewantara: Dalam pendidikan Taman Siswa, beliau juga mengadopsi sistem titi laras (notasi) yang berbasis angka untuk mempermudah rakyat belajar seni.

Kelebihan Not Angka di Indonesia

Hingga saat ini, Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara (bersama Tiongkok dan beberapa negara Asia lainnya) yang masih sangat aktif menggunakan not angka karena:

1. Ekonomis: Mudah dicetak dan tidak membutuhkan kertas khusus paranada.

2. Solmisasi Relatif: Sangat memudahkan penyanyi (paduan suara) untuk melakukan transposisi (pindah nada dasar) karena angka 1 (do) selalu menyesuaikan nada dasar yang dipilih.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Chaka Music Production

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca