Jadi gini, kemarin ada pertanyaan dari salah satu murid saya.

Dia punya lagu ciptaan sendiri, tapi dia sedang bingung mau kerjasama dengan siapa atau mau jual kemana lagunya. karena dia agak kurang pede kalau mau bawakan sendiri, dengan alasan takut kurang menjual, masih kurang secara kualitas sound dll.

saya mau cerita sedikit mengenai pengalaman saya menciptakan lagu, karena lagu itu buat saya seperti aset, harta atau bisa jadi bagian investasi.

Dulu saya mulai bikin lagu sekitar tahun 2006, lagu-lagu yang saya ciptakan tentu saja tidak serta merta mudah untuk dirilis, bahkan untuk ke record label saja tidak ada kenalan, mau produksi sendiri indie label belum punya skill dan bahkan ga punya alat recording sama sekali karena masih belum punya modal , anak kost.

Nah, pelan-pelan saya mulai ikut bantu isi recording beberapa teman yang ikutan album kompilasi, jaman itu juga banyak record label lbikin rilisan banyak artis, saya sering ikut rekaman sempat tapi saya lupa buat siapa dan apa judul lagunya. intinya dibayar, yaudah main aja tinggal baca.

Sampai satu hari saya ikut rekaman albumnya monita tahalea songs of praise 2013 yang diproduseri mas Indra Lesmana. disitu saya belajar proses aransemen, rehearsal, recording, mixing hingga packaging dan distribution.

sebagai referensi tambahan saya juga banyak nanya ke temen2 seperti Gerald Situmorang, kalau mau cerak CD dimana, berapa harganya, trus titip edar kemana dll.

Nah dari informasi yang saya kumpulkan, akhirnya beranikan diri untuk self produce aja nih, karya pertama saya album #1 solo instrumental gitu ceritanya, tapi dibantu temen-temen seperti Robert MR, Monita, Jessi mates, Ricad hutapea, Yoseph sitompul, Andie JP, Windy setiadi.

CDnya gimana? cetak sendiri pakai mesin printer , caranya beli CD kosong yang polos trus burn lagunya, nah printernya juga khusus karena bisa cetak cover dan juga cetak di surface CD itu sendiri. modal satu CD itu saya ingat sekitar Rp.20.000. tapi saya jual Rp.50.000.

Abis itu saya muter keliling komunitas-komunitas musik yang ada di jakarta dan bandung. bermodal CD yang saya cetak, alhamdulillah laku 100 keping. jadi udah ketahuan ya untungnya 3 jt, itu cukup kok buat balik modal biaya rekaman di studio live session 1 shift dan mixing harga temen. (waktu ituuuu)

untung? belum lah. kan CD pertama itu jadi bahan riset aja, uji coba gimana kalau jualan sendiri. sok indie label yang bener bener indie.

Nah project kedua saya bikin demo Lantun Orchestra (2014) saya garap lagu Kutunggu di salemba, rekamannya di salihara waktu itu Rp.1,5 jt/shift plus kasih ongkos temen2 yang ngisi rekaman, alhamdulillah juga pak Oele Pattiselano berkenan isi rekam di lagu itu. (link spotifynya dibawah!)

Abis kelar dimixing mastering oleh mas Danny ardiono, album demo tersebut jadi bahan ‘proposal’ buat main di club jazz paling hits pada masanya yaitu di Red and White Jazz Lounge. nah itu jadi hari bersejarah gig pertama LO, 11 mei 2014. setelah dari Red White, mulai cari gig ke festival-festival dan acara lainnya.

Mungkin cerita barusan kayak nggak nyambung ya? memang, tapi jangan buru-buru simpulkan yah. lanjut dulu aja yuk.

OK, mulailah saya ingat ‘tabungan’ yaitu lagu yang pernah saya ciptakan dari 2007-2012. akhirnya terpilih satu lagu berjudul 168 yang saya pikir cocok untuk dibawakan Monita Tahalea. Nah lagu itu saya “tawarkan” berupa demo, petikan gitar yang direkam pakai iPod. trus saya email lagu itu, dan pas banget Momon suka. kemudian momon mulai tulis liriknya.

Awalnya kami sering bawakan lagu 168 bersama teman-teman the nightingales, sampai gig terakhir di jazz gunung 2014 (waktu itu saya mengundurkan diri) hiks. tapi meski saya sudah gak di band, akhirnya lagu 168 tetap bisa masuk dalam album dandelion, karena manajemen sudah ada deal tertentu dengan saya sebagai pencipta lagu, ada kontrak lisensi 3 tahun sampai 2018. dan setelah masa tersebut lagu 168 akhirnya saya daftarkan ke publisher pustaka jeka dan LMK WAMI dan saya kuasakan pada lembaga2 tersebut untuk himpun royalti secara digital.

Sebagai info buat temen-temen ya, bagi hasil royalti antara pencipta melodi & penulis lirik itu 50-50. peran saya sebagai pencipta semua melodi dan harmoninya yang ada di lagu tersebut. sementara momon adalah penulis lirik dan penyanyinya.

Nah sampai sekarang, lagu-lagu yang saya ciptakan masih saya rilis secara independent di chakamusic.com dan sejak itu banyak juga beberapa rekan artis yang saya produce juga titip edar melalui indie label ini. kebetulan selain memproduksi rekaman, saya juga punya akses untuk rilis digital.

Saya juga kerjasama dengan beberapa publisher diantaranya Bagbeat Music, dimana bu Jeane Phialsa sebagai direkturnya. Gunanya publisher kamu tinggal klik link dibawah untuk baca postingan sebelum ini.

Pasti pernah denger dong istilah jual putus trus dihargai puluhan juta rupiah? ga salah kok, daripada basi atau nggak sengaja kebuang di recycle bin/trash komputer. tapi gini, coba pikirin misalkan ternyata lagu itu kalau dibawakan oleh artis A trus jadi hits, nah si artis A jadi milyarder trus kamu ga kebagian apa2 sebagai pencipta. kan ironis ya, minimal kamu beli rumah atau at least bisa dapet passive income deh.

tapi balik lagi itu pilihan, ada juga yang jual lisensi eksklusif biasanya sampai 25 tahun masa promosi, lalu haknya balik lagi ke pencipta.

Jadi saya sih ga ngasih saran apa-apa, hanya mau sampaikan:

  • Ketahui goals kamu apa
  • Bagi hasil dalam bisnis itu biasa
  • Good deal / Bad deal terserah penilaian kamu, ga ada orang lain yang paling bener.
  • Pilihlah rekan kerja yang kredibel
  • Produksi musik? di Chaka Music Production aja