Sabtu 14 mei 2022 silam merupakan salah satu hari bersejarah bagi Lantun Orchestra, setelah 2 tahun semua kegiatan terhalang pandemi, kini bisa menikmati kembali manggung dan bertatap muka langsung dengan penonton di at america, pacific place jakarta.

Acara yang bertajuk betawi meets jazz ini masih dalam rangka memperingati International jazz day, sekaligus ini kali pertama bagi at america menggelar konser musik dalam dua tahun terakhir.

Dari arah penonton nampak perwakilan dari kedutaan AS dan juga kemenparekraf RI turut menyaksikan acara ini.

Tim Lantun Orchestra yang bertugas malam itu:

  • Annya Phara – vocal
  • Achi Hardjakusumah – Violin
  • Rigen Handoyo – Trumpet
  • Rama Cristna – Accordion
  • Kabul Sihombing – Metal Toys
  • Cucu Kurnia – Kendang
  • Chaka Priambudi – Bass
  • Mikail Al Rabbdia – Gitar

Di sela pertunjukan terdapat pula sesi talkshow dengan moderator Kania dan sebagai narasumber Agus Setiawan Basuni (wartajazz) Muhammad Abror (Abang Jakarta) & Chaka Priambudi (Founder Lantun Orchestra) membahas pentingnya akulturasi budaya dan apresiasi.

Playlist:

  • Medley Lagu Betawi (Tradisional Jakarta)
  • Cikini Funk (Chaka Priambudi)
  • Nasi Kuning (Chaka Priambudi)
  • Betawi (Bhaskara 86)
  • Tea For Two (Doris Day)
  • Afro Blue (Mongo santamaria / Robert Glasper Version)
  • Kutunggu Kau Di Salemba (Chaka Priambudi/ Mian Tiara)
  • Ondel-ondel (Djoko Subagyo)

Salah satu hal menarik, ada audience yang bertanya:

Mengapa musik seperti ini lebih dihargai diluar negeri, sementara di dalam negeri tidak begitu terdengar?

Mungkin, jalur promosi seperti media televisi juga kurang begitu melihat musik tradisional ini sebagai potensi bisnis, sebut saja seperti minimnya program musik di stasiun TV swasta yang memberi highlight untuk musik tradisi, atau mungkin juga jalur social media yang lebih didominasi konten-konten lain yang lebih mainstream.

Kalau bicara jazz, secara angka penjualan baik streaming/download jazz belum pernah melebihi pop, namun secara konsistensi, Indonesia punya acara jazz tertua di dunia yaitu Jazz Goes To Campus, yang secara konsisten digelar terus menerus, belum lagi Indonesia mempunyai hampir lebih dari 75 festival jazz yang tersebar di berbagai propinsi.

Padahal musik dan kesenian tradisional bisa menjadi daya tarik wisatawan mancanegara dan ini sangat menguntungkan bagi industri pariwisata. selain itu konten musik tradisional memang bernilai jauh lebih tinggi ketika disajikan untuk konsumsi publik.

Apa harapan lantun orchestra?

harapan kami sederhana, yaitu bisa membawa fusi musik ini ke seluruh dunia. dan menjadi duta pariwisata indonesia untuk dunia, khususnya dari Jakarta.

mulai dari dapat dukungan untuk produksi karya yang lebih sustainable, konser, tour musik baik di dalam negeri dan luar negeri.