Ngobrol musik di Clubhouse

19 feb 2021

Siang ini saya baru saja ikut “nimbrung” di sebuah room yang dimoderasi oleh Badai “pianoman” dan Barry Likumahuwa. Topiknya “Inikah Era musisi mandiri?”, banyak juga artis-artis ternama lainnya yang berada di room tersebut, Endah widiastuti, Nino Kayam,Yura yunita, Dewa Budjana dan mas Pongky Barata.

Apa saja sih yang dibahas? pas saya awal “nguping” mereka sedang bahas cara mereka bertahan selama 2020, project-project yang menyelamatkan kondisi finansial seperti dikemukakan oleh mas Ronald Steven yang juga seorang music producer. Ronald merasa beruntung 2020 silam, ada project dari BCL, disaat industri pertunjukan sedang ambruk, justru dia disibukkan dengan menabung karya project rekaman single/album baru yang akhirnya menjadi snowball effect berupa permintaan virtual concert yang mencapaj 4-5 kali dalam sebulan.

Mas Budjana juga menuturkan dampak kondisi pandemi bagi musisi di Indonesia sebetulnya masih tidak terlalu parah jika dibandingkan musisi luar negeri seperti di USA. Contohnya di dalam negeri kita masih bisa kumpul janjian makan, meeting dan ngobrol seperti di clubhouse, sementara ketika dia rekaman di USA beberapa waktu lalu ada salah satu musisi besar yang sampai terpaksa menjual rumah.

Mas Ari Juliano mengutarakan juga pentingnya mengerti advokasi bagi para musisi sebagai perlindungan akan karya ciptanya sebagai kekayaan intelektual. juga tips bagi musisi independen untuk melakukan banyak kerjasama dengan berbagai pihak terutama untuk distribusi karya.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk “raise hand” untuk bertanya, dan mas Barry mengizinkan saya sebagai jadi salah satu speakers, yang saya tanyakan adalah “bagaimana tips memilih rekanan untuk kerjasama sebut saja LMK, publisher, record label” Kriteria semacam apa yang dibutuhkan menurut pengalaman para speakers.

Mas Badai menjawab dengan cukup singkat tentang pengalaman bekerjasama dengan pihak lain untuk distribusi karya. sebagai Insan indenpenden terutama newcomers tentunya membutuhkan eksposur lebih luas juga di sisi lain membutuhkan perlindungan hukum atas hak intelektualnya.

Badai bercerita semenjak dia menjalankan Kerispatih, beruntung bekerjasama di Nagaswara yang melihat karya-karyanya sebagai asset, bukan cuma sekedar konten yang bisa dijual untuk menghasilkan uang. Sebagai penulis lagu dia merasa peran dirinya mendapatkan dukungan “push to the limit”. Disaat yang sama mas badai juga mengatakan pentingnya teman-teman pendatang baru untuk jeli melihat kontrak karena biasanya justru ini sering jadi jebakan dan permasalahan di kemudian hari, jika diperlukan memang sebaiknya konsultasi dulu dengan rekan yang mengerti hukum hak cipta.

Mas Ronal Steven juga menambahkan, Dulu dirinya melakukan semuanya sendirian dia seolah menjadi goodcop karena menyenangkan klien, namun disisi lain sebagai badcop yang melakukan penagihan kepada user. Namun menurutnya jika karir kita menanjak dan kompleksitasnya bertambah memang sebaiknua kita sebagai kreator mendelegasikan sebagian pekerjaan kita pada pihak lain yang lebih ahli untuk distribusi karya kita. Alasannya adalah sebagai kreator sudah dealing dengan deadline segitu banyak maka adanya orang punya “otak lebih segar” dapat membantu kita untuk fokus pada produksi karya.

Kemudian ada Jeffry Waworuntu yang akrab disapa papa Jeff mengemukakan satu pertanyaan yang cukup sering didengar namun jarang bisa dijawab. “Sebagai orang yang mau cover lagu, bisa minta izin (lisensi) kemana?” “Apakah harga lisensi tiap lagu bisa dibuatkan standarisasi?”

Mas Pongky Barata di sisi lain justru mengemukakan pendapat, Sebagai pencipta lagu dia menggantungkan pendapatannya dari karya ciptanya. masalah standarisasi harga menurutnya bisa jadi polemik sendiri, dan untuk itu dibutuhkan duduk bersama para stakeholder dan wali agung yang bisa menengahi permasalahan ini harus dari pemerintah misalnya dari kementrian, karena ini sudah bukan lagi masalah industri melainkan politik.

Selanjutnya untuk masalah sistem pendataan sudah selesai. teman-teman yang mau mengcover lagu bisa menghubungi WAMI untuk cek ke database mereka atau bisa langsung ke publisher yang merilis karya artis tersebut. Ada juga beberapa user yang mengontak dia langsung, namun ada juga hal yang dia tekankan adalah pentingnya menulis credit nama pencipta lagu, karena menurutnya masih ada sekelas record label yang (mungkin) lupa menulis nama pencipta lagu. padahal dengan ditulisnya nama pencipta lagu akan mengubah kultur yang ada.

Berbagi informasi penting, jangan ditunda.

Diterbitkan oleh Chaka Music Production

Music Entertainment Website Since 2016 Jakarta

Satu pendapat untuk “Ngobrol musik di Clubhouse

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: