Ketika Genre Musik Sudah Tidak Lagi Diperlukan | Part 1 Keroncong

Scroll down to content

Widih judulnya, biasa deh ngomongin orang #eh.

Saya sering banget dapat pertanyaan gini “Mas, Lantun Orchestra main keroncong kan?” meski tidak sepenuhnya salah, saya juga belajar mengerti bahwa ini persoalannya hanya karena kebanyakan orang tidak mengenal istilah lain untuk mendeskripsikan bunyi-bunyian musik tradisional dalam musik saya. *aduh padahal unsurnya ada banyak banget. Tapi nanti saya jelaskan detilnya, saya mau cerita dulu.

Pada masa-masa awal Lantun Orchestra baru saya bentuk, ada satu video cover yang banyak ditonton di youtube yaitu Keroncong Kemayoran ditambah lagi, kami mendapat kesempatan berkolaborasi dengan sang Ratu Keroncong Sundari Soekotjo untuk tampil di Teater kecil jakarta pada event Pekan Komponis Keroncong Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Ada cerita lucu soal keterlibatan kami pada acara tersebut, waktu itu saya mencoba mendaftarkan diri sebagai peserta, syaratnya adalah menggubah aransemen lagu keroncong ke dalam format yang tidak biasa. Entah mengapa saya tidak masuk kualifikasi, dan saya juga tidak berkecil hati soal itu. Karena alasannya panitia adalah konon grup saya dinilai sudah komersil sehingga tidak fair bagi peserta lain yang notabene adalah arranger muda (padahal seumuran sama saya) dan yang mendaftar juga masih kawan-kawan saya. #yaudah Alhamdulillah dinilai komersil, meski saya tahu banget waktu itu ngejob aja masih jarang Hahaha. Saya cuma sesederhana ingin ikut partisipasi pada acara tersebut sekaligus menguji kompetensi diri saya pribadi sebagai arranger dan komponis, namun apalah daya belum perang sudah gugur Ha ha ha.

Saya mencoba berpikir positif saja, sampai suatu waktu tiba-tiba manager bu Sundari menelpon, ngajak ketemuan dan menjelaskan keinginannya beliau untuk kolaborasi dengan anak muda. Dan untuk misi tersebut grup saya Lantun Orchestra dinilai pantas untuk mengiringi beliau (Wow) trus sempat Ge eR dong gw, berarti emang bener komersil dong? Ha ha ha 🤣 anyway, rasa senang bercampur bangga dan bersyukur banget dapat kesempatan langka ini berujung pada satu pertanyaan yang jawabannya sudah ketahuan “Oiya mbak, ini buat manggung dimana ya?” di TIM acara Pekan Komponis…. 🤣🤣🤣 ngakak nggak bacanya? Seperti kata Bang Ben alias Benyamin Sueb “Kalo Emang Jodoh Gak Kemane” kira-kira begitulah kalau nyocokin sama penggalan lirik lagu beliau yang sangat terkenal #hujangerimisaje.

Oke, tarik napas…….buang…..hufff, udahan dulu ketawanya. Disini tantangannya dimulai, karena saya diminta mengerti berbagai style pada musik keroncong yang otentik. Ada istilah Engkel, Dobel dan berbagai istilah lainnya yang baru saya dengar waktu itu dan saya ingat ada Pak Uuk seorang pemain Cak yaitu alat musik semacam ukulele khas keroncong, yang memberikan contoh irama-irama dasar keroncong pada saya. Kemudian dari pengetahuan baru saya tersebut, saya diminta membuat aransemen beberapa lagu diantaranya Gethuk, Keroncong Kemayoran, Gambang Semarang.

Lantun Orchestra tampil dalam format ensemble Piano, Gitar, Doublebass, Cello, Violin, Accordion, Flute, Flugel Horn, Kendang plus Cak dan Cuk. Lumayan puyeng bikin aransemennya, selain harus bagi-bagi suara, Saya mesti pikirkan supaya aransemennya terdengar proporsional dan yang paling penting bikin penyanyi nyaman dulu. Urusan ini bakal jadi konsep baru di musik keroncong atau bukan nggak terlalu saya pikirin, Penonton cuma mau denger musik yang enak.

Singkat cerita, penampilan kami bersama bu Sundari Soekotjo ternyata merupakan suguhan di puncak acara tersebut (ajegile) belum mulai udah keringet dingin gw tapi saya percayakan pada semua teman-teman yang sudah berlatih keras untuk penampilan waktu itu, Saya juga percaya musikalitas mereka bisa dapat dikatakan masuk standar musisi terbaik di Ibukota, Jadi saya cukup sedikit lega untuk hal itu namun saya tetap perlu mengurus sedikit soal teknis soundcheck dan kebutuhan panggung lainnya.

Akhirnya kami berhasil manggung dengan lancar dan pertunjukan mendapat sambutan meriah dari para penonton. Trus besoknya, hampir semua headline berita yang meliput acara tersebut terpampang foto kami bangga? Yaiyalah, Ya kali nggak seneng. Saya gak akan mencoba munafik, malam itu mungkin jadi salah satu penampilan terbaik kami dan menjadi sejarah baru (setidaknya) bagi saya pribadi.

Nah saya rasa label keroncong ini melekat sejak kejadian tersebut, padahal sesudah malam itu, Lantun Orchestra kembali pada fitrahnya yaitu pada misi pengembangan musik, artinya apa? kami belajar musik tradisional untuk mengerti bagaimana leluhur kita menjadikan musik sebagai bagian dari kebudayaan yang tak lepas dari kehidupan.

Segitu dulu ceritanya, nanti saya sambung lagi, karena sudah jam 2 pagi, besok mesti menemani anak saya berenang.

Silahkan ditonton video dibawah ini.

Kalau berkenan follow instagram saya

https://instagram.com/chakapriambudi?igshid=5en984acy766

Iklan

One Reply to “Ketika Genre Musik Sudah Tidak Lagi Diperlukan | Part 1 Keroncong”

  1. Salut deh gue. Bikin aransemen itu kebayang susahnya. Sama kayak susahnya pelatih bola merancang penampilan yang bikin penonton puas. Salam satu aspal! Lho, jadi ojol 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: