Belajar Musik Tidak Sama dengan Membeli Barang atau Sewa Menyewa

Scroll down to content

Belajar/ berguru itu tidak sama dengan dagang atau sewa menyewa.

Kok judulnya gitu? Bukan lagi sinis ya, tapi lagi prihatin sama pertanyaan beberapa orang yang minta diajarin musik tapi bukannya fokus sama apa yang mau dipelajari atau materi apa yang dia butuhkan, langsung ujug2 nanya berapa biayanya?

Iya sih beli sesuatu dan belajar musik sama sama keluar uang. Bedanya, uang bisa habis, barang bisa abis, ilmu tetap abadi selamanya.

Contohnya beberapa hal yang saya alami dengan beberapa guru saya, waktu belajar sama dia, saya keluarin uang hasil susah payah nabung untuk les. Pokoknya jumlahnya lumayan lah, Nah suatu hari saya dikasih kerjaan dan diajak rekaman (1 hari lho) sama beliau guru saya juga yang ngajak, langsung balik modal itu semua malahan lebih. Akhirnya apa? Duit mah muter di seputar kantong, dompet dan rekening aja, tapi ilmu yang sama dari guru saya tersebut kan gak dia minta balikin atau saya pulangin pas dia bayar saya atau pas dia ngasih job.Hahaha, ya ini status buat yang ngerti aja sih dan buat yang mau mengerti.

Intinya saya mau bilang, duit kita gak akan pernah bisa bayar jasa guru.

—————–

Tulisan diatas saya copas dari status saya di Facebook, banyak yang tergugah untuk share ada juga yang komen positif. Karena tulisan berdasarkan fakta bahwa saat ini belajar musik bukan sesuatu yang dianggap penting.

Saya tergelitik untuk meneruskan tulisan ini dalam blog, bisa dibaca tulisan berikut ini.

Buat sebagian orang yang bercita cita atau sudah berkecimpung di dunia musik pastinya tambahan wawasan merupakan kebutuhan. Dan yang saya nggak habis pikir, sudah tahu butuh tapi nggak mau bayar? Maunya diajarin gratis, Saya rasa ada pentingnya juga kita belajar menghargai waktu.

Musisi itu dibayar kadang bukan karena dia skillful, tapi karena waktu yang dia berikan. Sebagai contoh, ada sebuah event peluncuran produk yang mewajibkan musisi stand by sejak pagi untuk souncheck dan ikut persiapan Gladi resik. Nah, mungkin main musiknya sih cuma 1 jam maksimal, tapi kok dibayarnya sama kayak orang kantoran kerja 2 hari? Nah yang dibayar apa? Waktu.

Musisi itu kadang dibayar karena pengalamannya. Sama saja seperti pekerjaan lainnya, semakin banyak jam terbang biasanya tarif/ biaya untuk jasanya cenderung naik, memang ada juga yang stabil dengan tarif yang sama namun itu hal lain karena banyak faktor yang menjadi alasan seorang pemilik jasa.

Mungkin kalau dalam dunia session player ada juga istilah Music Director, tentu saja gajinya beda dengan pemain lain yang memegang satu instrumen saja, MD mengemban tanggung jawab ekstra yaitu memastikan aransemen musik dimainkan dengan baik dan tentu saja ikut memimpin sebuah grup musik. Kadang MD tidak ikut main di band, tapi juga terlibat dalam penggarapan aransemen dan membantu menerjemahkan style musik yang akan ditampilakn Kok bisa sampai dipilih jadi MD? Balik lagi, pengalaman.

Makanya penting bagi musisi untuk menulis portofolio, supaya calon klien bisa tahu seberapa banyak pengalaman kita sebagai musisi.

Memang belajar gak harus keluar banyak uang, tapi gratis banget juga gak ada. Saya pernah bikin kelas grup karena masing2 personel tidak mampu kalau harus membayar private, jadinya mereka patungan untuk membayar kelas yang saya adakan.

Saya juga pernah mengadakan kelas bersama, waktu itu saya sedang belajar Keroncong, saya kumpulkan beberapa teman yang mempunyai minat sama dan mau patungan, kemudian saya minta waktu seorang guru untuk mengajarkan kami. Hal semacam ini biasa disebut masterclass, dan umum sekali dia dunia pendidikan musik.

Grup saya Lantun Orchestra juga pernah diminta untuk memberikan masterclass di sebuah sekolah menengah musik di jakarta, para siswa mengumpulkan sejumlah dana untuk membiayai penyelenggaraan acara internal tersebut dan memberikan kami kompensasi berupa uang sebagai bentuk apresiasi mereka. Nah kata kuncinya adalah apresiasi, dalam konteks pendidikan saya mengerti betul kami tidak bisa memasukan mindset komersil karena mereka tidak menjual tiket atau menciptakan profit. Sehingga kami hadir sebagai relawan yang memiliki niat untuk berbagi. Ingat ya, gratis banget juga gak ada. 😁

Oh sama satu hal lagi, saya sering banget kerja sebagai asisten untuk guru saya. Dan nggak pernah nanya akan dibayar / dapat tambahan berapa, saya pikir nambahin pengalaman kerja aja dulu duit mah nyusul. Lagipula, Pengalaman bersama guru saya itu nggak bisa saya beli, tapi saya bisa berada dalam momen yang sama dengan beliau dan bisa mengambil pelajaran dari situ saja sudah anugerah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: